KURIKULUM PROTOTIPE 2022
Pandemic
covid-19 membuka peluang untuk menghadirkan inovasi dalam pembelajaran, salah
satunya yang telah dilakukan oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan
Teknologi (Kemendikbudristek) dengan menyederhanakan kurikulum 2014 menjadi
sebuah kurikulum darurat dalam rangka pemulihan pada pembelajaran sebagai bagian
dari mitigasi hilangnya pembelajaran (learning loss) di masa pandemic yang
sedang terjadi. Learning loss diartikan sebagai sebuah ketidakmaksimalan
dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah, yang dapat berakibat
pada hasil informasi yang diperoleh oleh siswa dan hasil belajar siswa yang
menjadi tidak maksimal.Dengan adanya kurikulum prototipe ini diharapkan dapat
menata ulang kurikulum dengan memberdayakan teknologi informasi sejalan dengan
pertumbuhan karakter pada peserta didik.
Kurikulum
prototipe merupakan kelanjutan arah pengembangan kurikulum sebelumnya yaitu
berorientasi holistic, berbasis kopetensi dan kontektulisasi dan personalisasi.
Saat ini kurikulum prototipe menjadi salah satu opsi yang dapat dipilih oleh
sekolah dalam menyelenggarakan Pendidikan. Seperti yang sudah kita ketahui Bersama,
pandemic covid-19 yang ttelah mengakibatkan terjadinya learning loss pada
peserta didik, dengan kata lain sudah terjadi kemunduran pada proses akademik
peserta didik. Kurikulum prototipe ini bisa menjadi salah satu opsi yang dapat
membantu pemulihan pembelajaran (learning loss) akibat dari tidak
optimalnya pembelajaran jarak jauh.
Beberapa
karakteristik utama dari kurikulum prototipe yang dapat mendukung pemulihan
dari pembelajaran diantaranya adalah:
1. Focus
pada pengembangan soft skills dan karakter
Pada struktur kurikulum
prototipe, 20 sampai 30 persen jam pelajaran akan digunakan untuk pengembangan
karakter profil pelajar Pancasila melalui pembelajaran yang berbasis pada
projek, dimana melalui pemberian projek kepada siswa maka diharapkan akan dapat
memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat belajar melalui pengalaman (ecperiential
learning) sehingga pembelajaran yang berbasis pada projek ini dapat
membantu guru dalam mengembangkan karakter dan soft skilss siswa.
2. Focus
pada materi esensial
Kurikulum prototipe
berfokuus pada materi esensial di tiap mata pelajaran untuk memberi ruang/waktu
bagi pengembangan kompetensi mendasar seperti literasi dan numerisasi secara
lebih mendalam kepada para siswa.
3. Fleksibilitas
perencanaan kurikulum sekolah dan penyusunan rencana pada pembelajaran.
Kurikulum prototipe akan menetapkan
tujuan belajar per fase yaitu 2 sampai 3 tahun untuk dapat memberi
fleksibilitas bagi guru dan sekolah. Kurikulum ini juga menetapkan jam
pelajaran per tahun yang bertujuan agar sekolah dapat berinovasi dalam Menyusun
kurikulum serta metode pembelajaranya. Kurikulum prototipe juga memberikan
keluasan bagi para gruru dalam melakukan pembelajaran sesuai dengan kemampuan
siswa.
Berdasarkan
karakteristik yang telah dijabarkan diatas, dapat diketahui bahwa kurikulum
prototipe ini dalam menjalankan peranya ialah dengan cara menguatkan pada
literasi dan numerisasi serta menjadikan informatika sebagai sebuah mata
pelajaran wajib, hal ini dikarenakan kebutuhan akan teknologi yang sangat
penting pada saat ini. Tidak adanya peminatan IPA, IPS, atau Bahasa dalam
jenjang menengah atas juga untuk dapat mengembangkan keterampilan dan
kreativitas yang dimiliki siswa sesuai dengan mata pelajaran yang dipilihnya.
Adapun karakteristik Kurikulum
Prototipe untuk masing-masing jenjang adalah sebagai berikut:
1.
Karakteristik Kurikulum Prototipe
Jenjang PAUD
Kegiatan bermain sebagai proses belajar yang utama,
penguatan literasi dini dan penanaman karakter melalui kegiatan bermain belajar
berbasis buku bacaan anak.
2.
Karakteristik Kurikulum Prototipe
Jenjang SD
Penguatan kompetensi yang mendasar dan pemahaman
holistic, untuk memahami lingkungan sekitar, mata pelajaran IPA dan IPS
digabungkan sebagai mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), Bahasa
Inggris sebagai mata pelajaran pilihan
3.
Karakteristik Kurikulum Prototipe
Jenjang SMP
Penyesuaian dengan perkembangan teknologi digital,
mata pelajaran Informatika menjadi mata pelajaran wajib, panduan untuk guru
Informatika disiapkan untuk membantu guru-guru pemula, sehingga guru mata
pelajaran tidak harus berlatar belakang pendidikan informatika
4.
Karakteristik Kurikulum Prototipe
Jenjang SMA
Program peminatan/penjurusan tidak diberlakukan, di
kelas 10 pelajar menyiapkan diri untuk menentukan pilihan mata pelajaran di
kelas 11. Mata pelajaran yang dipelajari serupa dengan di SMP, di kelas 11 dan
12 pelajar mengikuti mata pelajaran dari kelompok Mapel Wajib, dan memilih mata
pelajaran dari kelompok MIPA, IPS, Bahasa, dan Keterampilan vokasi sesuai
minat, bakat dan aspirasinya.
5.
Karakteristik Kurikulum Prototipe
Jenjang SMK
Dunia kerja dapat terlibat dalam pengembangan
pembelajaran, struktur lebih sederhana dengan dua kelompok mata pelaajran yaitu
Umum dan Kejuruan. Persentase kelompok kejuruan meningkat dari 60% ke 70%, praktek
Kerja Lapangan (PKL) menjadi mata pelajaran wajib selama 6 bulan (1 semester)
6.
Karakteristik Kurikulum prototipe
Jenjang SLB
Capain pendidikan khusus dibuat hanya untuk yang
memiliki hambatan intelekstual, untuk pelajar di SLB yang tidak memiliki
hambatan intelektual, capaian pembelajarannya sama dengan sekolah regular yang
sederajat, dengan menerapkan prinsip modifikasi kurikulum, sama dengan pelajar
di sekolah regular, pelajar di SLB juga menerapkan pembelajaran berbasis projek
untuk menguatkan Pelajar Pancasila dengan mengusung tema yang sama dengan
sekolah regular.
Referensi :
KURIKULUM PROTOTIPE, SOLUSI MEMULIHKAN PEMBELAJARAN – LPMP Kalimantan Timur (kemdikbud.go.id)
Komentar
Posting Komentar